When a place becomes home

Monna McDiarmid

japan family
A friend of ours noted
that this path
through America-yama Park
and up the hill
by the Foreigners Cemetery,
is the bit of Yokohama
I’ve photographed
most frequently.

She said she wished
she’d done the same
in Bangkok
where they’ve lived
for years.

This path,
my favourite part of Yokohama,
is my walk to school
and home.

I know the afternoon light
on this path
at 4:37
and 5:03
and 6:12.
I’m acquainted with
all its disparate goldens,
have memorized the lengths
of shadows cast
by trees
and tombstones.

I wear this path
on the inside.

In Autumn
we decided to stay
in Japan
another year
and then for more…
for as many as we can.

A declaration
of place-love
as fierce
as we’ve felt.

Unexpectedly
my relationship
with this path
began to shift.

For thirty months
this path
has been inhabited
by changing seasons
of fairy-people
and magic.
On…

View original post 34 more words

Born in The Wrong Generation?

Pernah gak sih kalian ngerasa seperti dilahirkan di generasi yang salah karena saking hopeless nya sama hal-hal yang terjadi di masa kini?
Kita jadi sering membandingkan betapa menyenangkannya hidup di jaman saat semua hal yang terjadi begitu rasional. Contohnya kita mungkin kangen sama masa-masa dimana acara televisi berisi tayangan-tayangan atau film-film yang lebih bermutu dari sekarang, kangen sama masa-masa dimana industri musik melahirkan banyak lagu-lagu yang lebih berkualitas dari sekarang, juga kangen di sebuah jaman dimana moral manusia mungkin lebih baik dari moral manusia jaman sekarang. Waktu pacaran itu masih sekedar surat-suratan pake kertas dan titip-titip salam lewat abang bakso yang jadi langganan elo dan doi dan ciuman itu masih sangat tabu, apalagi free-sex. Tapi di sini gue gak lagi kepengen membahas soal sisi buruk dan menyebalkan nya “jaman sekarang” . Tapi lebih ke sisi lain yang menurut gue sering luput dari pandangan kita soal “jaman sekarang”. Terutama buat orang-orang yang merasa hopeless sama keadaan hari ini dan merasa di dunia ini udah gak ada lagi hal baik. Gue ngutip quote ini dari tumblr seseorang:

Why is “i was born in the wrong generation?” Even a thing like okay vintage clothing and old music are pretty cool. But so are Ipod and racial tolerance -glassperfection.tumblr

image

Gue setuju sama quote dia, lagu jaman dulu emang bagus-bagus, pun film-film jaman dulu, juga selera fashion orang-orang jaman dulu. Tapi sadar gak sih kalo hal-hal yang kita punya jaman sekarang ini jauh lebih hebat dari orang-orang jaman dulu punya. Kita lebih beruntung dari mereka. Jaman dulu tuh gak ada ipod. Walaupun pemutar piringan hitam lebih punya kualitas suara yang bagus tapi kita kan gak bakalan bisa dengerin lagu-lagu keren itu ketika sedang diperjalanan. Dengerin lagu keren sambil duduk di deket jendela mobil, kereta, dan lain lain sambil ngeliatin pemandangan di luar dan ngerasa kaya melebur sama alam. Jaman dulu juga gak ada internet sehingga kita gak bisa nge-blog. Kita gak bakalan bisa show up selera fashion kita yang keren di media dan dilihat plus di comment sama banyak orang di dunia. Kita juga gak bisa traveling segampang jaman sekarang karena jaman dulu pesawat itu masih merupakan transportasi yang tidak terjangkau. Dan lain sebagainya lah.
Nah selain sebagian hal menyenangkan yang bisa kita rasain dijaman sekarang yang gue sebutin diatas, ada hal paling dan amat menyenangkan yang sangat membuat gue bersyukur karena gue dilahirkan di jaman ini. ORANG-ORANG PINTAR DAN HEBAT YANG TERASA BEGITU DEKAT
Kalo gue baca sejarah tokoh tokoh tersohor jaman dulu, gue bisa ngambil kesimpulan betapa orang pintar pada jaman itu begitu sulit untuk membagi ilmu yang mereka miliki ke orang banyak. Mungkin buat menyampaikan sebuah teori atau pendapat ilmiah aja orang pinter jaman dulu harus melakukan atau melewati proses yang sangat rumit dan melelahkan lahir batin.
Tapi kita lihat jaman sekarang, orang-orang hebat dan pintar bisa membagi ilmu mereka dengan mudah lewat blog pribadi, atau social media lain dan dengan mudahnya bisa dibaca seluruh orang di dunia. Dan itu membuat wawasan jadi seperti gak ada batas. Orang yang pinter programming nulis blog tentang programming, orang yang pinter hukum nulis blog tentang ilmu hukum yang ia ketahui untuk dijadikan referensi, orang yang pinter bikin kue sharing tutorial bikin kue, begitu juga orang yang pinter main musik tertentu dengan baik hati mau membagi keahlian mereka dan membuat tutorial untuk mengajar orang-orang  yang memiliki minat serupa. Kita bahkan bisa merasa sangat dekat dengan orang-orang hebat karena berinteraksi lewat akun social media mereka.
Selain di social media, orang-orang hebat tadi juga tidak segan-segan untuk melanjutkan sharing ilmu mereka lewat talk show yang meraka adakan. Dan yang lebih menyenangkan, mereka tidak jarang menulis buku untuk membuat ilmu dan pengalaman mereka tidak hanya didengar dan terlupakan begitu saja. Belakangan ini gue lagi kegandrungan baca buku-buku lokal. Kebanyakan non-fiksi. Buku terakhir yang gue baca itu buku Girls Tech nya Mbak Ollie @salsabeela seorang cewek smart yang bekerja di dunia IT. Di buku itu dia dengan sangat baik hati membagi ilmu, pengalaman serta semangat nya kepada para pembaca. Gue juga punya buku Kreatif Sampai Mati karya mas Wahyu Aditya yang membagi pengalamannya sebagai seorang animator dan business man yang super creative. Trus ada juga buku Irfan Amalee yang menceritakan pengalaman serat tips yang ia punya dalam menjalani study nya di Amerika, bagaimana dia menuliskan semua hikmah dan ilmu yang ia dapat di Negeri Paman Sam itu yang bisa kita ambil dan pelajari untuk kehidupan kita. Serta banyak buku lain yang dituliskan oleh anak-anak muda yang berprestasi dan perduli kepada perkembangan pegetahuan. Gue yang tadinya sempet hopeless dan menganggap betapa sedikitnya orang pinter dan bermoral baik di jaman sekarang ini langsung dapet pencerahan. Walaupun media gak terlalu suka mengeksploitasi prestasi-prestasi anak bangsa dan lebih suka mengeksploitasi hal-hal gak penting kaya gossip kawin cerai selebritis tapi bukan berarti kita gak punya anak-anak bangsa yang pintar-pintar dan berprestasi. Mereka ada banyak jumlahnya. Mereka Cuma gak terliput media. Tapi mereka bisa dengan mudahnya kita jangkau di dunia maya dan di toko buku toko buku terdekat. Gue salut karena mereka concern banget sama apa yang mereka lakukan, kebanyakan dari mereka gak munafik dan betul-betul perduli sama hal-hal berbau social. Dari apa yang mereka hasilkan dari hobi atau passion yang meraka kerjakan mereka juga concern uuntuk berbagi ilmu dan materi untuk orang-orang yang membutuhkan. Kebanyakan dari mereka bahkan udah menjangkau dunia international. Mungkin nama-nama orang-orang hebat yang gue maksud diatas belum seterkenal nama Farhat abbas yang gak gue ngerti apa prestasinya.Tapi itu cukup membuktikan kalau apa yang mereka lakukan tidak pernah tujuannya untuk masalah popularitas pribadi.
Dan intinya, diatas semua kekacauan “jaman sekarang” yang terlihat mata. Gue gak pernah menyesal dan merasa terlahirkan di generasi yang salah. Gue bahagia banget bisa hidup di jaman yang no limits kaya gini. Untuk masalah moral memilah milah yang baik atau gak baik di dunia tanpa batas ini jadi tanggung jawab masing-masing orang pribadi aja. Kita yang milih sendiri mau tetap teracuni sama sinetron-sinetron gak mutu atau gossip gossip plus gaya hidup seleb gak penting di tv atau mencari dan membuka dunia lain yang di dalamnya banyak hal positif yang bisa kita ambil. Gue percaya kok setiap hal itu punya banyak sisi yang berbeda. Dan gue gak pernah ngerasa hopeless sama dunia yang semakin lama kelihatannya semakin gak jelas juntrungannya. Gak usah ikutan stress mikirin koruptor, penegak keadilan yang gak adil, ustad ustad matrialistis, bla..bla..bla. Mendingan kita fokus aja memperbaiki moral dan akhlak mulai dari lingkungan terkecil yang bisa kita jangkau.
Fighting ya!!!!

“Saat ini dunia memang penuh dengan tipu daya, tapi jangan biarkan hal ini membutakanmu pada ketulusan yang ada; dimana-mana kehidupan masih penuh dengan kepahlawanan” -Desiderata, Max Ehrmann

Kembali Memulai

Untuk sementara waktu saya sedang tidak ingin memulai sesuatu jika itu berhubungan dengan pertemuan dengan seseorang atau menjalin kisah

Mulanya saya adalah orang yang paling percaya bahwa setiap orang yang datang dalam kehidupan kita, baik atau jahat, sahabat atau musuh, mengantarkan sebuah pesan hidup kepada kita. Sehingga kita tidak pernah akan bisa memiliki alasan untuk menyesal telah memulai sesuatu dengan seseorang.

Memulai hal indah yang berakhir menyakitkan adalah hal yang paling saya benci. Lebih menyenangkan jika suatu hal dimulai dengan menyebalkan dan diakhiri dengan hal indah. Namun betapapun saya membenci akhir yang menyakitkan biasanya saya selalu bisa dengan cepat mengambil pesan yang dimaksudkan untuk sampai kepada saya lalu menutup kisahnya.

Kali ini agak berbeda. Memulai yang kali ini sudah saya lakukan dengan sangat hati-hati. Ketika saya menemukan diri saya yakin, keyakinan itu justru ternyata terlalu besar dan kuat sehingga saya lupa untuk bersiap menghadapi akhir. Saya terlalu yakin kalau akhirnya tidak akan semenyedihkan biasanya. Tapi saya salah. Dan saya sedang merasa terlalu malas untuk berfikir berbulan bulan ini sehingga tidak bisa mengambiln pesan yang seharuanya sudah sampai.

Apakah seharusnya tidak ada yang pernah kita mulai, Nhoj?
Ini pertama kalinya saya menyesal telah memulai sesuatu. Saya menyesal karena diakhir, terlalu banyak yang hilang selain dirimu. Terlalu banyak yang ikut berubah sehingga saya merasa kamu yang telah merenggutnya.

Semoga tidak ada akhir lagi untuk sesuatu yang kelak saya mulai.
Jika saya sudah berani.

Memang siapa yang perduli tentang Karma?

Seringkali jawaban dari pertanyaan “KENAPA?” ketika kita merasa tersakiti atau kecewa, terlalu lama datangnya. Dan ketika akhirnya jawaban itu datang, kita justru sedang merasa terlalu sibuk berbahagia buat perduli sama hal itu lagi

image

Jadi siapa yang masih perduli tentang karma?
YAITU mereka yang lebih sering sibuk menyalahkan orang lain saat terluka. Seharusnya kita cukup mengobati saja luka itu. Semua orang juga pernah terluka. Pun dia yang kamu fikir sudah menyakiti atau membuat kamu kecewa.

Pun dia….

Jadi berhenti berfikir kalau orang lain jahat dan kamu baik hanya karna semua tidak seindah yang kamu fikir.
Tuhan itu memberikan sesuatu yang memang pantas kita dapatkan.
Pantas untuk dimiliki atau tidak dimiliki. Pantas untuk di jadikan pelajaran ataupun pengalaman.

Lalu Nhoj, memangnya siapa yang masih perduli tentang karma?

A Reminder to Unina

BW

Flyer

To Unina Amicha Prasetyo,

When I told you to keep moving on, it wasn’t about sitting in the spinning carousel. Yes you’re moving on; up; high until you think that you’re in the sky again but soon you’re back staring at the ground through the window again. In fact, you’re going nowhere.

Now, go out of your carousel, take off your shoes, step your feet back on the wet grass and run. I know you would go even lower but you need to leave the carnival. I know you built it in years, but it’s now empty. Find the exit door and don’t look back. When we meet, I’ll do my best to help you with the map.

That’s what I meant with moving on.

–P

View original post

Februari Pada Dua Masa

image

My heart locked and nowhere that i got the key

Dear, Nhoj

Aku memutuskan untuk mengunci hatiku semenjak terakhir kita bertemu kemarin, 14 Februari 2014. Yang aku coba fahami, kedatanganmu hari itu berbeda dengan kedatanganmu di bulan Februari tahun sebelumnya.

Kalau kamu ingat, Februari adalah bulan dimana pertama kali kamu dan aku bertemu. Kalau kamu ingat.
Februari adalah bulan pertama aku mengagumi senyummu.
Pertama kali aku mendengar suara lembutmu.
Pertama kali mencium aroma beverly hills dari tubuhmu.
Pertama kali melihat kamu tertawa.

Februari kali ini
Aku tahu kamu bukan lagi kamu yang dulu.
Ketika kamu datang dan duduk dihadapanku senyummu tidak lagi mengagumkan. Senyum itu bukan hanya aku yang menggilai.
Kamu tidak selembut suaramu.
Dan lagi, tubuhmu tidak lagi beraroma beverly hills.
Kamu tidak lagi sama, walaupun tawamu masih serenyah biasanya.